Istilah wanita karir telah acap kali terdengar, khususnya di zaman sekarang ini. Fakta membuktikan bahwa kaum wanita kini semakin mampu sejajar dengan kaum pria. Karena itu sudah sepantasnyalah mensyukuri keadaan wanita yang selangkah lebih maju. Khususnya di Indonesia bahwa alam pembangunan dewasa ini telah mencapai taraf kemajuan dalam segala bidang. Maka potensi sumber daya manusia menjadi faktor terpenting dalam pembangunan ini. Dalam bidang kultur tampak sudah lazim bagi wanita untuk bekerja di luar rumah, atau dikenal dengan apa yang disebut wanita karir.
Sebuah Hadits menyatakan:“ Kaum pria itu pemimpin (atas) kaum wanita”. Maksud dari Hadits tersebut bahwa di rumah kedudukan pria (bapak) itu menjadi kepala keluarga yang wajib melindungi istri dan anak-anaknya, dalam arti bila sudah di luar rumah baik wanita maupun pria sama-sama mempunyai hak untuk bekerja atau berkiprah di masyarakat. Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bersosialisasi dengan masyarakat, selama tidak mengabaikan tugas dan kewajibannya di rumah, karena wanita yang telah berkeluarga memiliki tanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup anak-anaknya demi membawa kemaslahatan bagi agama dan negara. Hal tersebut di atas membuktikan bahwa kaum wanita tidak kalah dengan kaum pria, bahkan tugas wanita lebih mulia karena mempunyai fungsi ganda. Kalaupun dalam hal lain pria diberi kelebihan, tentu ada imbangannya. Terdapat faktor lainnya dimana wanita justru mempunyai kelebihan daripada pria.
Pertama, kedudukan seorang ibu yang jauh lebih mulia daripada seorang ayah di mata anak. Seorang sahabat datang kepada Rosulullah saw. dan bertanya : “Ya Rosulullah, bimbing saya, kepada siapa saya berbuat baik agar saya dapat menikmati perbuatan baik ini?” Rosul menjawab, “ Berbuat baiklah kepada ibumu,” dan begitulah seterusnya pertanyaan itu dijawab yang sama terulang tiga kali, barulah pertanyaan keempat dijawab dengan bapakmu. Hadits lain mengatakan bahwa “Surga ada dibawah telapak kaki ibu.” Maka kehormatan mana yang lebih indah bagi seorang wanita selain kata-kata ini. Kedua, bahwa wanita lebih banyak mendapat kemudahan untuk masuk surga. Ketiga, derajat kemakbulan seorang ibu lebih tinggi dibanding ayah. Keempat, bahwa larangan seorang ibu terbanding dengan perintah wajib dari Allah swt.
Hal di atas menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi martabat wanita. Berbeda dengan tuduhan yang dilemparkan oleh beberapa orientalis yang menaruh kebencian terhadap Islam, dengan mengatakan bahwa Islam merendahkan martabat wanita dan hanya dijadikan pemuas nafsu pria, serta tidak mempunyai kebebasan bersosialisasi sama sekali. Hal ini memang mengakibatkan kesalahpahaman, terutama di mata orang awam yang tidak memahami ajaran Islam secara global dan menyeluruh. Mereka mengira bahwa ajaran Islam melarang wanita ke luar rumah, sehingga kehidupannya menjadi sangat sempit dan tertutup. Tentu hal ini sepintas menimbulkan kesan yang negatif. Lantas bagaimana permasalahan yang sebenarnya?
Islam tidak menghendaki selain kebaikan. Semua syariatnya benar-benar sesuai dengan kondisi fisik, mental dan naluri setiap orang. Islam menghargai setiap usaha atau kerja, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, apakah itu dilakukan oleh pria maupun wanita, yang pertanggungjawabannya langsung diserahkan kepada Allah swt. kemudian Islam mengajarkan tugas antara wanita dan pria berdasarkan corak kefitrahannya masing-masing, bukan kecerdasan kualitas kerja yang mengacu pada pembagian kekuasaan antara keduanya, sehingga menjadikan yang satu lebih utama dari yang lain. Jelasnya semua tugas itu adalah mulia, bila didasarkan pada niat mencari ridho’ Ilahi dan semata-mata sebagai realisasi dari peribadatan kepada-Nya. Karena dalam hal ibadah dan ketaqwaan, wanita dan pria dinilai atas standar yang sama.
Bagi wanita tentu saja dalam berkarir, tetap harus mengindahkan etika dan aturan pergaulan dan tidak melanggar norma-norma ajaran Islam. Hal ini terutama ditekankan dalam Islam bahwa batasan pergaulan wanita dan pria harus dijaga. Jangan sampai seorang wanita yang giat berkarir di luar rumah, berpenampilan berlebihan dengan memperlihatkan kecantikan atau perhiasannya, bertingkah laku kasar dan kurang lembut, sehingga terlihat sebagai seorang wanita yang sombong dan kurang sopan. Sebaliknya dengan tetap memakai busana muslimah serta tidak bertujuan mencari perhatian, wanita karir yang muslim akan terlihat anggun.
Khusunya pada era masa kini, dominasi budaya Barat cukup terasa meresap dan memberi warna dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia Timur. Materialisme dan hedonisme telah memunculkan persepsi yang salah tentang kualitas pekerjaan, tugas dan kewajiban. Semua diukur dengan materi, yang pada gilirannya akan ikut menentukan status sosial dan kedudukan seseorang di mata masyarakat.
Dalam keadaan yang demikian, akhirnya wanita terpancing dan terpengaruh oleh sistem hidup serba materialis ini. Wanita menjadi merasa lebih rendah dari kaum pria, sehingga muncullah gerakan emansipasi wanita yang melampaui batas kodrati wanita. Disinilah seorang muslimah dituntut untuk berpikir dan merenungkan kembali, bagaimana jati diri seorang wanita yang sebenarnya.
Sebagai seorang muslim, Islamlah yang merupakan jalan selamat untuk menghadapi gejolak globalisasi era sekarang ini. Konsepsi Islam tentang wanita telah begitu jelas, bahwa wanita muslim diharapkan mampu menempatkan dirinya pada proporsi yang sebenarnya.
Akhirnya kerangka iman dan Tauhidlah yang harus tertanam pada diri setiap muslimin dan muslimah. Segala yang bersandar pada sifat materialistis harus dihapus. Sebab bagaimanapun iman adalah tolok ukur dan pijakan dasar apa saja yang dilakukan setiap manusia, yang tanpa ini semua pekerjaan manusia akan sia-sia dan bahkan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Sebuah Hadits menyatakan:“ Kaum pria itu pemimpin (atas) kaum wanita”. Maksud dari Hadits tersebut bahwa di rumah kedudukan pria (bapak) itu menjadi kepala keluarga yang wajib melindungi istri dan anak-anaknya, dalam arti bila sudah di luar rumah baik wanita maupun pria sama-sama mempunyai hak untuk bekerja atau berkiprah di masyarakat. Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bersosialisasi dengan masyarakat, selama tidak mengabaikan tugas dan kewajibannya di rumah, karena wanita yang telah berkeluarga memiliki tanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup anak-anaknya demi membawa kemaslahatan bagi agama dan negara. Hal tersebut di atas membuktikan bahwa kaum wanita tidak kalah dengan kaum pria, bahkan tugas wanita lebih mulia karena mempunyai fungsi ganda. Kalaupun dalam hal lain pria diberi kelebihan, tentu ada imbangannya. Terdapat faktor lainnya dimana wanita justru mempunyai kelebihan daripada pria.
Pertama, kedudukan seorang ibu yang jauh lebih mulia daripada seorang ayah di mata anak. Seorang sahabat datang kepada Rosulullah saw. dan bertanya : “Ya Rosulullah, bimbing saya, kepada siapa saya berbuat baik agar saya dapat menikmati perbuatan baik ini?” Rosul menjawab, “ Berbuat baiklah kepada ibumu,” dan begitulah seterusnya pertanyaan itu dijawab yang sama terulang tiga kali, barulah pertanyaan keempat dijawab dengan bapakmu. Hadits lain mengatakan bahwa “Surga ada dibawah telapak kaki ibu.” Maka kehormatan mana yang lebih indah bagi seorang wanita selain kata-kata ini. Kedua, bahwa wanita lebih banyak mendapat kemudahan untuk masuk surga. Ketiga, derajat kemakbulan seorang ibu lebih tinggi dibanding ayah. Keempat, bahwa larangan seorang ibu terbanding dengan perintah wajib dari Allah swt.
Hal di atas menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi martabat wanita. Berbeda dengan tuduhan yang dilemparkan oleh beberapa orientalis yang menaruh kebencian terhadap Islam, dengan mengatakan bahwa Islam merendahkan martabat wanita dan hanya dijadikan pemuas nafsu pria, serta tidak mempunyai kebebasan bersosialisasi sama sekali. Hal ini memang mengakibatkan kesalahpahaman, terutama di mata orang awam yang tidak memahami ajaran Islam secara global dan menyeluruh. Mereka mengira bahwa ajaran Islam melarang wanita ke luar rumah, sehingga kehidupannya menjadi sangat sempit dan tertutup. Tentu hal ini sepintas menimbulkan kesan yang negatif. Lantas bagaimana permasalahan yang sebenarnya?
Islam tidak menghendaki selain kebaikan. Semua syariatnya benar-benar sesuai dengan kondisi fisik, mental dan naluri setiap orang. Islam menghargai setiap usaha atau kerja, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, apakah itu dilakukan oleh pria maupun wanita, yang pertanggungjawabannya langsung diserahkan kepada Allah swt. kemudian Islam mengajarkan tugas antara wanita dan pria berdasarkan corak kefitrahannya masing-masing, bukan kecerdasan kualitas kerja yang mengacu pada pembagian kekuasaan antara keduanya, sehingga menjadikan yang satu lebih utama dari yang lain. Jelasnya semua tugas itu adalah mulia, bila didasarkan pada niat mencari ridho’ Ilahi dan semata-mata sebagai realisasi dari peribadatan kepada-Nya. Karena dalam hal ibadah dan ketaqwaan, wanita dan pria dinilai atas standar yang sama.
Bagi wanita tentu saja dalam berkarir, tetap harus mengindahkan etika dan aturan pergaulan dan tidak melanggar norma-norma ajaran Islam. Hal ini terutama ditekankan dalam Islam bahwa batasan pergaulan wanita dan pria harus dijaga. Jangan sampai seorang wanita yang giat berkarir di luar rumah, berpenampilan berlebihan dengan memperlihatkan kecantikan atau perhiasannya, bertingkah laku kasar dan kurang lembut, sehingga terlihat sebagai seorang wanita yang sombong dan kurang sopan. Sebaliknya dengan tetap memakai busana muslimah serta tidak bertujuan mencari perhatian, wanita karir yang muslim akan terlihat anggun.
Khusunya pada era masa kini, dominasi budaya Barat cukup terasa meresap dan memberi warna dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia Timur. Materialisme dan hedonisme telah memunculkan persepsi yang salah tentang kualitas pekerjaan, tugas dan kewajiban. Semua diukur dengan materi, yang pada gilirannya akan ikut menentukan status sosial dan kedudukan seseorang di mata masyarakat.
Dalam keadaan yang demikian, akhirnya wanita terpancing dan terpengaruh oleh sistem hidup serba materialis ini. Wanita menjadi merasa lebih rendah dari kaum pria, sehingga muncullah gerakan emansipasi wanita yang melampaui batas kodrati wanita. Disinilah seorang muslimah dituntut untuk berpikir dan merenungkan kembali, bagaimana jati diri seorang wanita yang sebenarnya.
Sebagai seorang muslim, Islamlah yang merupakan jalan selamat untuk menghadapi gejolak globalisasi era sekarang ini. Konsepsi Islam tentang wanita telah begitu jelas, bahwa wanita muslim diharapkan mampu menempatkan dirinya pada proporsi yang sebenarnya.
Akhirnya kerangka iman dan Tauhidlah yang harus tertanam pada diri setiap muslimin dan muslimah. Segala yang bersandar pada sifat materialistis harus dihapus. Sebab bagaimanapun iman adalah tolok ukur dan pijakan dasar apa saja yang dilakukan setiap manusia, yang tanpa ini semua pekerjaan manusia akan sia-sia dan bahkan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Kerangka Tauhid yang dimaksud tidak akan mempersempit ruang gerak muslimah dalam menentukan profesi pilihannya. Islam tidak melarang kaum wanita bekerja di luar rumah pada saat ada yang membutuhkan pelayanan, baik untuk kepentingan masyarakat maupun dirinya sendiri.
(Oleh: Sumayya I. Munawar ; Suara Lajnah, Pebruari 1996)
(Oleh: Sumayya I. Munawar ; Suara Lajnah, Pebruari 1996)
0 comments:
Post a Comment