Sang “Lidah Mertua”

Sansevieria sp. si Lidah Mertua


 Sebutan lain yang akrab untuk mengidentifikasi tanaman ini adalah: kaktus kodok (karena bentuk daun yang seperti kodok), lidah mertua (karena daun mudanya yang muncul menyerupai lidah dan tajam), tanaman abad 20 (mulai dikenal pada era ini), tanaman keberuntungan (mudah tumbuh dipelihara sebagai simbol rezeki), atau si belang yang mempesona (warna daun yang belang-belang).
Sansevieria dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang, dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan.

Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen, sehingga tahan kekeringan. Namun dalam kondisi lembab atau basah sansevieria bisa tumbuh subur. Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag. Mudah dikenali yaitu tidak berbatang, daun tumbuh tegak berwarna kuning hijau dengan anakan di sekitar tanaman induk, tumbuh bunga dan biji.

Ada beberapa jenis Sansevieria, di antaranya S. cylindrica, S. liberica, dan S. trifasciata. Ketiganya harus cukup mendapatkan cahaya matahari. Jika terus-menerus disimpan di tempat teduh, warnanya akan memudar. Sebab itu, kalau ia dijadikan tanaman hias dalam ruangan, keluarkanlah setidaknya seminggu sekali, agar mendapatkan cukup sinar matahari.


Sansevieria memiliki ciri khusus yang jarang ditemukan pada tanaman lain, diantaranya mampu bertahan hidup pada rentang suhu dan cahaya yang luas, sangat resisten terhadap gas udara yang berbahaya (polutan), bahkan mampu menyerap polutan di daerah yang padat dengan lalu lintas dan di dalam ruangan yang penuh dengan asap rokok.

Sansevieria alias Si Lidah Mertua punya banyak kelebihan, seperti mampu bertahan hidup pada rentang waktu suhu dan cahaya yang sangat luas, sangat resisten terhadap polutan, dan mampu menyerap 107 jenis polutan di daerah padat lalu lintas dan ruangan yang penuh asap rokok. Demikian diungkap Peneliti Senior dan Tenaga Ahli Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Delima Hasri Azahari Darmawan dalam memperingati Hari Bumi dengan tema “Gelar Sansevieria Indonesia” di Jakarta, Rabu tanggal 22 bulan April 2009.

Delima yang juga Penasihat Komunitas Pencinta Sansevieria Indonesia (Kompensasi) mengungkapkan bahwa saat ini tidak kurang dari 100 jenis sansevieria yang ada di Indonesia. Sekalipun tanaman ini berasal dari Afrika, tetapi ada satu jenis sansevieria asli Indonesia yang ditemukan di Kepulauan Seribu yaitu Sansevieria javanica. Berdasarkan data yang dirilis Kompensasi, ada banyak manfaat lain dari sansevieria. Di dalam tiap helai daun sansevieria ada pregnane glycoside, zat yang mampu mengurai zat beracun menjadi senyawa organik, gula, dan asam amino. Zat beracun yang diurai, seperti karbondioksida, benzen, xilen, formaldehid, koloroform, dan triklorotilen.

Di dalam ruangan, sansevieria bisa menangani sick building syndrome, yaitu keadaan ruangan yang tidak sehat akibat tingginya konsentrasi gas korbondioksida, nikotin dari rokok, dan penggunaan AC. Satu tanaman sansevieria trifasciata lorentii dewasa berdaun 4/5 helai dapat menyegarkan kembali udara dalam ruangan seluas 20 m persegi. Selain itu, sansevieria trifasciata lorentii yang dipotong-potong 5 cm yang ditempatkan di dalam kulkas dapat menghilangkan aroma tidak sedap. Dalam lingkungan industri potongan daun ini disebarkan di ruang-ruang produksi industri untuk mereduksi senyawa beracun yang terhirup oleh pekerja.

Lebih lanjut, tanaman yang juga bernama Old Century Plant, dapat mereduksi radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan oleh komputer dan televisi. Maka baik jika tanaman ini ditaruh di samping komputer atau televisi. Sansevieria juga sering diletakkan di pojok-pojok dapur maupun di pojok kamar mandi untuk meredam bau yang tidak sedap.

Selain sebagai tanaman hias, baik untuk di dalam maupun luar ruangan, beberapa situs menyebutkan tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati borok, bisul, influensa, batuk, radang saluran pernapasan, penyubur rambut, diabetes, wasir, hingga kanker ganas. Di Thailand, ekstrak sansevieria sudah dikembangkan menjadi obat kanker dengan harga mencapai Rp 700.000 per kapsul. Seratnya digunakan sebagai bahan pakaian.

Beberapa jenis tanaman Sansevieria ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Contohnya Sansevieria Trifasciata lorentii sebagai obat diabetes, caranya satu lembar daun tanaman tersebut dipotong-potong dan direbus dengan air tiga gelas. Setelah direbus hingga air tinggal satu gelas kemudian diminum. Dapat juga digunakan sebagai obat ambein. Caranya satu lembar daun yang telah dikeringkan direbus dengan tiga gelas air, dibiarkan mendidih sampai air tinggal satu gelas selanjutnya diminum.

(dari berbagai sumber)

0 comments: