Confucius alias Khong Hu Chu disebut dengan nama, arti dan ejaan bermacam-macam. Joseph Gaer dalam bukunya “Asal Mula Agama-agama Besar Di Dunia” menulis nama beliau adalah “K’ung-tze ("atau K’ung Fu Tze, Kung artinya ahli filsafat). Orang asing menamakannya Conficius. Nama pribadi beliau Ch’iu K’ung (551-479 SM)” (hal 71). “Ch’iu Kung adalah nama kecilnya” (hal. 75). “K’ung Fu Tze artinya ahli filsafat Kung” (hal. 76).
Dalam buku “What Has Religion Done for Mankind?’ terbitan Watchtower Bible & Tract Society, International Bible Students Association, Brooklyn, New York, USA 1951, ditulis “Confucius was, of course, not his real name. Because he was a family of Kung, he came to be called of “Kung-fu-tze” which means “Kung The Master” or “Kung The Teacher” (hal. 214), yang artinya : “Tentulah Confucius bukanlah nama yang sesungguhnya, karena beliau adalah dari keluarga Kung, sampai beliau disebut “Kung-fu tze” yang artinya “Sesepuh Kung” atau “Guru Kung”. Selanjutnya dalam halaman 214 itu juga ditulis : “At his birth the name his father gave him was Kin and he addes another name at the same time, Chung Ni”, artinya: “Pada kelahiran beliau nama yang diberikan oleh ayahandanya kepada beliau adalah Kin dan beliau (yaitu sang ayah) menambahkan nama lainnya pada waktu yang sama , Chung Ni.” Adapun tentang kelahiran beliau dikatakannyalah: “Confucius was born, 551 BC” artinya: “Confucius dilahirkan tahun 551 SM.”
M. Mufti Sharif dalam bukunya “Filsafat Dan Perbandingan Agama” 1977, terbitan Daru-l-Kutibi-l-Islamiyah, Jakarta, menulis: “Khong Hu Chu dilahirkan pada tahun 551 SM disebuah negara yang bernama Lu (di propinsi Sang Tung sekarang), (hal. 87). Tetapi jika demikian seharusnya Khong Hu Chu wafat dalam usia 73 tahun bukan 71 tahun.
Di dalam brosur no. 33-34 berjudul “Apakah Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Agama Khong Hu Chu?”, Sala, 12 November 1969 diterbitkan oleh MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khong Hu Chu Indonesia) ditulis: “Kelahiran Nabi Khongchu (551-479 SM). Nabi Khongchu lahir di negeri Louw, kota Coo Iep, desa Chiang Ping pada tanggal 27 bulan VIII Imlik 551 SM” (hal. 4) dan beliau wafat pada tanggal 18 bulan II Imlik 479 SM, dan dimakamkan didekat sungai Su Swie di kota kelahirannya” (hal. 6 dan 12). Disini ternyata tanggal wafatnya berbeda dengan tanggal yang ditulis oleh M.M. Sharif tersebut di atas.
Selanjutnya brosur tersebut menulis: “Sebutan Khonghuchu sebenarnya berarti Guru Suci Khong, sedang nama beliau yang sebenarnya ialah Khiu yang berarti Bukit alias Tiong Nie yang artinya Putra Kedua dari Bukit Nie. Beliau diberi nama demikian karena sebelum kelahirannya, Ibu Tien Cay (ibunya Khong Hu Chu) sering bersembahyang kepada Thian (Tuhan-pen) Yang Maha Esa di bukit Nie” (hal. 4-5). Propinsi Lu (mungkin hal ini identik dengan Low tadi-pen) terletak di distrik Tsow, tidak jauh dari Sungai Kuning (Hwang Ho) di Tiongkok (Joseph Gaer tersebut hal. 74) yang oleh Sharif disebut sebagai Propinsi Sang Tung sekarang.
Disebut Putra Kedua tadi, nampaknya atau sangat mungkin karena Khong Hu Chu mempunyai 9 kakak-kakak perempuan tetapi hanya mempunyai seorang kakak laki-laki, dimana Khong Hu Chu sendiri lahir sebagai seorang Putra (anak lelaki) Nomor II (bungsu) dimana beliau sebagai anal laki-laki (putra) kedua diantara dua orang putra itu, (Brosur No. 33-34 tersebut hal. 4).
Kedua orangtua Khong Hu Chu pun disebut dengan nama berbeda-beda. Ayah beliau disebut Shuh Liang Heih (Joseph Gaer hal. 74), Syu Lang Heh (M.M. Sharif hal. 87), dan Khong Siok Liang Hut (Brosur tersebut hal. 4). Demikian pula ibunya disebut orang Ching Tsai (Joseph Gaer hal. 74), Yen Cing Tsai (M.M. Sharif hal. 87) dan juga disebut Gan Tien Cay (Brosur tersebut hal. 4).
J.J.L Duyvendak dalam E.N.S.I.E yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Filsafat Tiongkok Kuno – Hindia Muka dan Ethika” oleh Senat Mahasiswa Fakultas H.E.S.P, UGM, menulis: “Diantara “sarjana-sarjana” yang mengembara ini, yang pertama-tama disebut ialah Confucius, biografinya yang lengkap ditulis oleh seorang ahli sejarah Tionghoa She-ma Tsye’en (kira-kira 100 tahun SM).
Tetapi biografi tersebut ditulis ketika orang sedang memuja-muja Confucius jadi hanya dapat dianggap semacam legenda saja yang menceritakan tentang Confucius. Sebenarnya kalau ditinjau dari sudut historis, orang hanya mengetahui sedikit sekali tentang dia. Sumber yang paling baik untuk mengetahui riwayat hidupnya adalah sebuah buku LUN-YU (Pembicaraan-pembicaraan). Menurut Duvydendak, ”Tetapi buku ini yang agaknya ditulis sesudah 375 tahun SM juga tidak menceritakan banyak tentang riwayat hidup Confucius. Bahkan tanggal kelahiran dan meninggalnya pun (551-479 SM) tidak selalu dapat dipertahankan. Bahwa orang memakai tanggal-tanggal itu ialah karena tidak dapat menggantinya dengan yang lebih tepat. Orang mengira, bahwa Confucius telah menulis dan menerbitkan berbagai buku-buku tetapi hal ini tidak benar; kemungkinan lebih besar bahwa ia sama sekali tidak pernah menulis barang sesuatupun. Confucius adalah nama Latin dari K’ung Futze (Guru K’ung). Nama kecilnya Tsy’iu dan sesudah ia dewasa diberi nama Tsyung-ni. Menurut cerita ia adalah keturunan dari suatu keluarga bangsawan miskin yang berdiam di negara Lu, sebagian dari yang sekarang dinamakan Syantung” (hal. 6).
Dari analisa-analisa tersebut maka memang terdapat perbedaan-perbedaan mengenai hal ikhwal yang bersangkutan dengan Khong Hu Chu itu, antara lain:
1. Nama beliau adalah Ch’iu, K’ung, Khiu, Kin, Tsyung-ni alias Tiong Nie, dan juga Khong Hu Chu, Khongcu, K’ung Fu-tze alias K’ung-tze, yang dalam lidah Barat menjadi Confucius.
2. Negeri kelahirannya disebut Lu atau Low jug San Tung atau Syantung.
3. Kedua orangtua beliau pun disebut dengan macam-macam nama dan ejaannya, sebagaimana sudah disebutkan di atas tadi.
Namun betapapun juga Khong Hu Cu adalah benar-benar seorang tokoh sejarah yang pernah hidup di pemukaan bumi Cina dan dikenal oleh dunia.
Huruf, sama, beda, bacaannya
Untuk menjelaskan tentang nama-nama yang berbeda-beda tersebut di atas tadi, maka terlebih dulu kita harus ingat bahwa Negeri Cina itu begitu luas dan besar daerahnya, yang penduduknya terdiri daripada berbagai suku bangsa yang menggunakan berbagai macam dialek bahasa dan ejaan-ejaannya. Maka perbedaan-perbedaan nama itu (walaupun yang dimaksud adalah seorang ituitu juga) sangat mungkin disebabkan situasi dan kondisi di dalam negeri itu sendiri, khususnya, mengenai perbedaan bacaan dalam bahasa itu masing-masing atas huruf-huruf Cina yang ada .Tegasnya hurufnya sama, tetapi beda membacanya, apalagi jika kita hubungkan dengan bahasa Jepang, yang walaupun hurufnya (yaitu aksara HON-JI atau KAN-JI-nya) adalah sama dengan aksara-aksara Cina, namun berbeda pembacaannya.
Sebagai contoh ditampilkan di sini tentang nama negeri Cina itu sendiri, yaitu TIONG-KOK. Ada yang membaca CHUNG- KOK, sedangkan orang-orang Jepang membaca CHU-KOKU. Padahal huruf-hurufnva sama bentuknya. Dan dibaca Chukoku oleh bangsa Jepang itupun, karena huruf-huruf yang bersangkutan itu (terdiri dari 2 huruf) sudah merupakan "senyawa" (majemuk). Jika kedua huruf itu dipisahkan, maka dalam bahasa Jepang menjadi seperti berikut: Kata atau huruf Tiong atau Chung alias Chu, dibaca "NAKA” artinya Tengah, sedangkan kata atau huruf satunya lagi Kok alias Koku itu dibaca "KUNI' artinya Negeri. Jadi nama Tiongkok alias Chungkok alias Chukoku itu arti harafiahnya ialah "NEGERI TENGAH”. Negeri Cina disebut demikian, karena bangsa Cina dalam sejarahnya menganggap negerinya sebagai "Negeri di tengah-tengah atau di pusat dunia".
Atas dasar analisa, tersebut diatas itu, maka menurut pendapat saya, bahwa nama Khong Hu Cu atau K’ung Fu-tze dan sebagainya itu tadi, begitu pula nama Lu atau Low tersebut diatas dan lain-lainnya perbedaannya hanya terletak pada pembacaannya, atas aksara-aksara yang bersangkutan, padahal bentuk-bentuk hurufnya itu sama saja.
Kitab Suci Khong Hu Cu
Kalau agama Islam dibawa oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rosulullah saw., maka Kitab Sucinya kaum Muslimin, yaitu Al-Qur’an adalah berisi wahyu-wahyu Allah swt. yang diwahyukan kepada beliau saw. Namun tidak demikian apa yang disebut Kitab Suci Agama, Khong Hu Cu itu.
Sebelum saya menguraikan tentang Kitab Suci yang dimaksud itu, maka terlebih dulu saya tampilkan tentang definisi dari apa yang disebut Agama Khong Hu Cu itu, adalah "agama yang mempunyai sejarah perkembangan, sehingga memperoleh bentuk terakhir pada zaman/oleh Nabi Khongcu dan murid-muridnya nnelampaui rasa ribuan tahun" (Brosur tersebut hal. 2), sedangkan apa yang disebut Kitab Suci agama Khong Hu Cu itu pun "tidak terbentuk dalam satu zaman, melainkan merupakan himpunan dari zaman kezaman" (Brosur tersebut hal. 2). Menurut brosur tersebut selanjutnya sebagaimana tercantum pada halaman 2 dan 6 Kitab Suci Khong Hu Cu dibagi dua kelompok:
Pertama: Kitab Suci NGO KING (Kitab Suci Yang Lima), merupakan himpunan Kitab-kitab Suci dari zaman sebelum Khong Hu Cu, tetapi menurut keyakinan para penganut agama ini, bahwa kitab ini kata mereka adalah dihimpun dan disusun oleh Khong Hu Cu sendiri. Kitab Ngo King terdiri dari:
1). SIE KING (Kitab Sanjak), berisi kumpulan nyanyian-nyanyian rakyat maupun nyanyian-nyanyian pujian. Kumpulan dari abad 15 s/d l 7 SM.
2). SU KING (Kitab Hikayat Suci atau Kitab dokumentasi Sejarah Suci). Isinya ialah himpunan dokumentasi amanat-amanat suci yang terdiri dari apa yang disebut Kitab Giauw Tian (amanat/perundangan baginda Giauw) dan apa yang disebut kitab Sun Tian (amanat/perundangan baginda Sun). Dari abad ke-23 SM. sampai pada raja muda Chien Bok Kong (abad ke-7 SM.).
3). YA KING (Kitab Kejadian/Perubahan Alam Semesta dan Peristiwanya) : Tanda-tanda sucinya berupa Pat Kwa atau Delapan Diagram (rencana/gambaran) berasal dari raja suci Hok Hie dan tafsir utamanya yang menjadi isi Kitab ini dari raja suci Bun, Nabi Ciu Kong dan Nabi Khong Hu Cu sendiri, katanya. Adapun rnengenai apa yang disebut "delapan diagram" tadi tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut dalam brosur tersebut.
4). LEE KING (Kitab Suci tentang kesusilaan atau etika) terdiri dari Kitab Gie Lee oleh Nabi Ciu Kong dan Kitab Lee Kie (Catatan Kesusilaan) yang katanya dihimpun oleh 2 orang pemuka agama Khonghucu dan keluarga Tay dari dinasti Han (2 abad SM s/d 2 abad M).
5). CHUN CHIU KING (Kitab Hikayat zaman Chun Chiu) yang katanya ditulis oleh Khonghucu sendiri untuk menilai kejadian-kejadian baik dan buruk pada zaman Chun Chiu itu (tahun 722-480 SM).
Kedua: Kitab Suci Pokok yang katanya “langsung” bersumber dari ajaran-ajaran Khonghucu sendiri. Kitab ini sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, langsung dari bahasa/huruf-huruf Han oleh Tim Penyempurna Terjemahan pada tahun 1970 yang diterbitkan oleh MATAKIN tersebut. Kalimat-kalimat dalam masing-masing ayat sebagiannya kadang-kadang sulit ditangkap atau sukar dimengerti isi dan maksudnya. Ia terdiri dari empat himpunan kitab seperti berikut:
1. THAI HAK (Jepang: Dai Gaku) artinya “Ajaran Besar”. Ini merupakan ajaran permulaan untuk masuk pintu gerbang kebajikan, kitab tuntunan pembinaan diri, dari kehidupan pribadi/perorangan, keluarga, masyarakat, negara sampai dengan dunia. Menurut penganut-penganut Conficianisme kitab ini dibukukan oleh Cingcu alias Cing Cam, salah seorang murid termaju dari antara 72 murid Khonghucu yang secara sempurna menerima pelajaran.
Kitab Thai Hak terdiri atas 1 bab utama dan 10 bab lainnya (64 ayat). Menarik perhatian ialah ayat yang tercantum dalam Thai Hak Bab X ayat 10, yaitu: “Maka kata-kata yang tidak senonoh itu akan kembali kepada yang mengucapkan, begitu pula harta yang diperoleh dengan tidak halal itu akan habis dengan tidak karuan” (hal. 26)
2. TIONG YONG, artinya “Tengah Sempurna”. Merupakan kitab ajaran rohani (keimanan) dalam agama ini, menurut mereka dikodifisir oleh cucu NAbi Khonghucu, bernama Khong Khiep alias Cu Su yang menjadi murid Cing Cu, katanya langsung menerima bimbingan dari Khonghucu. Kitab ini terdiri dari 1 bab utama plus 32 bab-bab lainnya (128 ayat), yang tiap-tiap babnya tidak diberikan judul tertentu. Menarik perhatian ialah ayat-ayat yang berbunyi seperti berikut:
a. "Guru (Khonghucu-pen) bersabda: 'Sungguh Maha besarlah Kebajikan Kwi Sien (Tuhan dalam sifatnya sebagai Maha Roh). Dilihat tidak nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan ummat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-NYA. Sungguh Maha Besar Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Di dalam Kitab Sanjak (Si King) tertulis: Adapun kenyataan Tuhan Yang Roh itu tidak boleti diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguhlah jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia" (Tiong Yong Bab XV ayat 1 s/d 5);
b. "Dengan berpuasa membersihkan hati mengenakan pakaian lengkap, tidak melakukan yang tidak susila, kita dapat membina diri…" dan seterusnya (Tiong Yong Bab XIX ayat 14).
c. "Maka yang beroleh puncak Iman itu akan seperti malaikat" (Tiong Yong Bab XXIII ayat 1 bagian belakang);
d. "Mahabesar jalan suci Nabi. Sangat luaslah Dia, berlaksa wujud dikembangkan dan dipelihara, kemuliaannya meninggi langit" along Yong Bab XXVI ayat 1&2)
Menurut ayat-ayat tersebut di atas itu, bahwa Tuhan itu adalah Maha Gaib, manusia disyariatkan berpuasa untuk membersihkan hati sanubari dan bersembahyang sujud ke hadirat Tuhan Yang Maha Besar dan Lathif dan untuk membina diri; keimanan yang luhur akan dapat mencapai sifat-sifat malaikat, sedangkan seorang Nabi memiliki Jahn Suci, terpelihara dan mulia di sisi Tuhan.
3. LUN GI, artinya, "Sabda Suci". Terdiri dari dua bagian besar dan tiap-tiap jilid diberi judul-judul tertentu dalam bahasa/huruf Han tanpa terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
BAGIAN A: terdiri dari 10 jilid, 267 pasal, 408 ayat:
I : Flak Ji 16 pasal, 24 ayat ;
II : Wi Cing 24 pasal, 39 ayat;
III : Pat let 26 pasal, 38 ayat;
IV : Li Jien 26 pasal, 31 ayat;
V : Kong Ya Tiang 28 pasal 40 ayat;
VI : Yong ya 30 pasal , 41 ayat;
VII : Sut Ji 38 pasal, 51 ayat;
VIII : Thai Pik 21 pasal, 35 ayat;
IX : Cu Han 31 pasal, 46 ayat;
X : Hiang Tong 27 pasal, 63 ayat;
Menarik perhatian ialah ayat-ayat berikut:
a. “Penjaga tapal batas Negeri Gi ingin bertemu dengan Guru dan berkata: Setiap ada seorang Kuncu lewat di sini, aku tidak pernah tidak menemuinya. Oleh para murid ia disilakan menemuinya. Setelah keluar ia, ia berkata: Saudara-saudaraku, mengapa kalian nampaknya bermuram durja karena kehilangan kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci kini Thian (Tuhan -pen.) menjadikan Guru (Khonghucu-pen) selaku Bok Tok (Genta)” (Lun Gi jilid III pasal 24 ayat 1 s/d 3).
Apa yang disebut Bok Tok (Genta) itu ialah "Genta Rohani Tuhan". Di dalam brosur tersebut di atas tali yaitu pada halaman 5 dan 12 ada keterangan yang maksud ringkasnya, ialah, bahwa setelah melakukan sembahyang besar kepada Thian (Tuhan), pada hari Tang Cik (22 Desember 495 SM) Khonghucu meninggalkan negeri Low dan rnengembara bersama murid-muridnya dari satu negeri ke negeri lainnya, melakukan pekerjaan sebagai BOK TOK (Genta Rohani Tuhan) untuk menyiarkan ajaran agamanya kepada ummatnya di negeri Cina itu. Barulah dalam usia 6 tahun Khonghucu kemali ke kampung halamannya, yang rnenurut sahibul hikayat di antara kaum Khonghucu itu, beliau kernudian menyusun apa yang disebut Kitab Suci. Di dalam. pengembaraannya itu beliau diikuti oleh murid-muridnya yang setia antara lain: Yen Hwei, Tze Kung dan Tze Lu(hubungkan pula dengan Duyvendak hal. 8). Untuk selanjutnya penganut-penganut agarna ini memperingati tanggal 22
Desember sebagai hari "Genta Rohani" alias "Tan Cik" itu tadi.
Akan tetapi menurut pendapat sava, bahwa "Genta" secara simbolis bisa diartikan sebagai alat untuk menyeru atau mengajak, atau bisa jadi sebagai suatu isyarat, agar rnanusia pada berkumpul atau bersatu, di mana Khonghucu mengembara dan merantau dari negeri ke negeri lain, dari kampung ke kampung, oleh Tuhan diutus untuk mengajak ummatnya dan untuk menyampaikan tugas-tugas missinya, menyeru mereka di Jalan Suci itu. Dalam analisa berikut ini nyata sekali bahwa Khonghucu adalah benar-benar seorang Nabi yang diutus oleh Tuhannya. Maka menurut pendapat saya, apa yang disebut sebagai Bok Tok itu tiada lain ialah identik dengan NABI.
b). "Ada seorang berpangkat Thai-cai bertanya kepada Cu K'ong: Seorang Nabikah Guru tuan, mengapa begitu banyak kecakapannya? Cu Fong menjawab: " MEMANG THIAN (Tuhan-pen.) TELAH MENGUTUSNYA. SEBAGAI NABI. Maka banyaklah kecakapannya" (Lun Gi jilid IX fasal 6 ayat I & 2). Dari ayat-ayat ini sudah jelas, bahwa Khonghucu, yang disebut "Guru" (lihat Gu Han pasal 1 & 2 ayat 1 dan 2) itu adalah seorang NABI, yang dalam ayat lainnya tadi disebut Bok Tok itu.
c) "Guru bersabda: Seorang Kuncu memuliakan 3 hal, memuliakan Firman Thian, memuliakan orang-orang besar dan memuliakan sabda para Nabi. Seorang rendah budi tidak mengenal dan tidak memuliakan Firman Thian, meremehka orang-orang besar dan mempermainkan sabda para Nabi" (Lun Gie jilid XVI pasal 8 ayat 1 & 2). Dari ayat ini jelas, bahwa manusia wajib taat kepada Tuhan, Rosul-Nya dan ulil amri, dan jika tidak demikian orang itu dinyatakan sebagai rendah budinya. Memang tiap-tiap individu penduduk harus patuh kepada Pemerintah, di mana mereka berada.
BAGIAN B : terdiri dari 10 jilid, 245 pasal, 463 ayat, namun nomor-nomor babnya adalah lanjutan dari nomor-nomor bab dari bagian A tersebut di atas:
Xl. SianCien 26 pasal, 62 ayat;
Xll. Gan Yan 24 pasal, 56 ayat;
XIII. Cu Lo 30 pasal, 51 ayat;
XIV. Hian Bun 44 pasal, 80 ayat;
XV. Wee Ling Kong 42 pasal, 59 ayat;
XVI. Kwi Si 14 pasal, 33 ayat;
XVII. Yang Ho 26 pasal, 52 ayat;
XVIII. Bi Cu 11 pasal, 22 ayat;
XIX. Cu Tiang 25 pasal, 31 ayat;
XX. Giauw Wat 3 pasal, 17 ayat;
Kitab-kitab ini menurut mereka adalah merupakan kumpulan catatan murid-murid Khonghucu tentang sabda-sabda beliau, percakapan beliau dengan para murid, kehidupan sehari-hari beliau, dimana seluruh ajaran-ajaran Khonghucu itu katanya tercakup dalam Kitab ini.
4. BING CU (nama seseorang), merupakan kitab penjelasan yang lebih mendetail tentang ajaran Khonghucu yang katanya ditulis oleh Bing Cu sendiri dan murid-muridnya (brosur tersebut hal. 8). Tetapi di pihak lainnya dikatakannya, bahwa kitab tersebut ditulis oleh Bing Kho (bukan Bing Cu), yaitu pengajak ajaran agama Khonghucu yang hidup pada zaman Cian Kok (Perangnya Kerajaan-kerajaan) lahir antara tahun 371-289 SM orang negeri Low (brosur tersebut hal. 3). Apakah Bing Cu itu identik dengan Bhing Kok, tidak diperoleh penjelasan dari brosur itu.
Adapun Kitab Bing Cu itu terdiri dari 7 jilid (A & B), 258 pasal, 962 ayat seperti berikut:
I . Liang Hwi Ong (A: 7 pasal, 58 ayat dan B :16 pasal, 70 ayat);
II . Kong Sun Thio (A: 9 pasal, 75 avat dan B : 14 pasal, 5 ayat);
III. Tin Bun Kong (A: 4 pasal, 53 ayat dan B : 10 pasal, 55 ayat) ;
IV. Li Lo (A: 28 pasal, 86 ayat dan B : 32 pasal, 82 ayat) ;
V. Ban Ciang (A: 9 pasal, 47 ayat dan B : 9 pasal, 54 ayat);
VI. Ko Cu (A: 20 pasal, 74 ayat dan B: 16 pasal, 82 ayat);
VII . Cien Siem (A: 46 pasal, 127 ayat dan B: 38 pasal, 94 ayat).
Jika diteliti isi Kitab Su Sie itu, bukanlah ia berisi sabda-sabda Tuhan kepada Khonghucu, melainkan semacam Hadits dalam Islam, dan ini pun ditulis tanpa sanad. Di kitab ini kita sering meniunpai kalimat-kalimat "Guru bersabda: …” (bandingkan dengan kalimat dalam hadits-hadits kita "Qala Rosulullahi saw. : …).
Kitab Ngo King yang terdiri dari 5 kitab itu mengingatkan kita kepada Kitab "'Torat Nabi Musa" yang juga terdiri dari 5 kitab, begitu pula Kitab Su Sie yang terdiri dari 4 kitab itu pun mengingatkan kita kepada Kitab "Injil Kristus" yang terdiri dari 4 kitab-juga. Dan kalau tadi sudah dikatakan, bahwa kitab suci agama Khonghucu itu merupakan himpunan kitab-kitab yang rerbentuk dari zaman ke zaman (brosur tersebut hal. 2), maka terbentuknya Bible itu adalah sepanjang masa antara 1500 tahun (Pengajaran Agama Masehi cetakan III halaman 9 oleh Pendeta A.K. de Groot, penerbitan Maleische Christelyke Lectuur Vereniging Batavia - 1935 dan Suara Nubuwatan Bandung pelajaran ke 1 no: 7) dan 1600 tahun (Dasar Kepercayaan Akan Dunia Baru hal. 17 terbitan Watchtower Bible and Tract Society, USA).
Akan tetapi, walaupun Kitab Ngo King itu berisi peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran sebelum lahirnya Khonghucu, namun biasanya kaum penganut agama Khonghucu menyebut Kitab itu dengan SU SIE NGO KING (bukan Ngo King Su Sie). Didahulukan sebutan Su Sie di depan Ngo King itu nampaknya Kitab Su Sie dianggap lebih penting daripada Kitab Ngo King, karena Su Sie itu merupakan Kitab Pokok Confucianisme dan katanya langsung bersumber dari Nabi Khonghucu sendiri sebagaimana sudah diterangkan di atas tadi.
(Sumber: Sinar Islam, Agustus 1981).