Sang “Lidah Mertua”

Sansevieria sp. si Lidah Mertua


 Sebutan lain yang akrab untuk mengidentifikasi tanaman ini adalah: kaktus kodok (karena bentuk daun yang seperti kodok), lidah mertua (karena daun mudanya yang muncul menyerupai lidah dan tajam), tanaman abad 20 (mulai dikenal pada era ini), tanaman keberuntungan (mudah tumbuh dipelihara sebagai simbol rezeki), atau si belang yang mempesona (warna daun yang belang-belang).
Sansevieria dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis yang tumbuh memanjang ke atas dengan ukuran 50-75 cm dan jenis berdaun pendek melingkar dalam bentuk roset dengan panjang 8 cm dan lebar 3-6 cm. Kelompok panjang memiliki daun meruncing seperti mata pedang, dan karena ini ada yang menyebut Sansevieria sebagai tanaman pedang-pedangan.

Tumbuhan ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen, sehingga tahan kekeringan. Namun dalam kondisi lembab atau basah sansevieria bisa tumbuh subur. Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag. Mudah dikenali yaitu tidak berbatang, daun tumbuh tegak berwarna kuning hijau dengan anakan di sekitar tanaman induk, tumbuh bunga dan biji.

Sang Laksamana Agung Dari Cina

Dunia mengenal Vasco Da Gama, Bartholomeus Diaz, Marco Polo dan Christopher Columbus sebagai penakluk sang lautan. Tapi nama-nama itu masih sangat kecil bila dibandingkan dengan Cheng Ho, seorang  laksamana dari Dinasti Ming zaman kekuasaan Kaisar Zhu. Bukti-bukti kebesaran Cheng Ho diungkapkan oleh sejarawan amatir Gavin Menzies, pensiunan Komandan Kapal Selam Angkatan Laut Inggris. Dengan biaya sendiri ia mengunjungi 120 negara dan melakukan penelitian di 900 museum dan perpustakaan. Bukan itu saja, ia juga bertanya kepada para ahli. Hasilnya? Ia kemudian menerbitkan buku “1421, The Year China Discovered The World” pada November 2002. Di bukunya itu, Menzies menjelaskan bahwa Cheng Ho yang pertama kali menemukan Benua Amerika, bukan Colombus. Sejarah memang harus diluruskan.
Menzies menegaskan, Colombus justru berlayar dengan bekal peta lama buatan Cina. “Ketika para awak kapalnya gelisah, Colombus hanya meyakinkan, terus saja ke barat, nanti pasti akan sampai.”
Peta itu diyakini sebagai peta yang dibuat berlayar para pelaut Cina. Apalagi peneliti lain, Cedric Bell, menemukan reruntuhan kota kuno di Cape Breton, Nova Scotia, pantai timur Kanada. Kawasan itu ternyata memiliki tembok keliling dengan arsitektur Cina. Temuannya itu kemudian disebut Nova Cataia atau New Cathay.
Konon setiap ia pulang ke Cina, Cheng Ho selalu membawa oleh-oleh benda-benda eksotik untuk sang kaisar mulai dari batu permata, jenis pakaian, rempah-rempah, sampai dengan hewan-hewan seperti singa, macan tutul, jerapah, burung onta, merak, ataupun hewan eksotik lainnya yang di Cina belum ada.

Khong Hu Chu Dan Kitab Sucinya

Confucius alias Khong Hu Chu disebut dengan nama, arti dan ejaan bermacam-macam. Joseph Gaer dalam bukunya  “Asal Mula Agama-agama Besar Di Dunia” menulis nama beliau adalah “K’ung-tze ("atau K’ung Fu Tze, Kung artinya ahli filsafat). Orang asing menamakannya Conficius. Nama pribadi beliau Ch’iu K’ung (551-479 SM)” (hal 71). “Ch’iu Kung adalah nama kecilnya” (hal. 75). “K’ung Fu Tze artinya ahli filsafat Kung” (hal. 76).
Dalam buku “What Has Religion Done for Mankind?’ terbitan Watchtower Bible & Tract Society, International Bible Students Association, Brooklyn, New York, USA 1951, ditulis “Confucius was, of course, not his real name. Because he was a family of Kung, he came to be called of “Kung-fu-tze” which means “Kung The Master” or “Kung The Teacher” (hal. 214), yang artinya : “Tentulah Confucius bukanlah nama yang sesungguhnya, karena beliau adalah dari keluarga Kung, sampai beliau disebut “Kung-fu tze” yang artinya “Sesepuh Kung” atau “Guru Kung”. Selanjutnya dalam halaman 214 itu juga ditulis : “At his birth the name his father gave him was Kin and he addes another name at the same time, Chung Ni”, artinya: “Pada kelahiran beliau nama yang diberikan oleh ayahandanya kepada beliau adalah Kin dan beliau (yaitu sang ayah) menambahkan nama lainnya pada waktu yang sama , Chung Ni.” Adapun tentang kelahiran beliau dikatakannyalah: “Confucius was born, 551 BC” artinya: “Confucius dilahirkan tahun 551 SM.”
M. Mufti Sharif dalam bukunya “Filsafat Dan Perbandingan Agama” 1977, terbitan Daru-l-Kutibi-l-Islamiyah, Jakarta, menulis: “Khong Hu Chu dilahirkan pada tahun 551 SM disebuah negara yang bernama Lu (di propinsi Sang Tung sekarang), (hal. 87). Tetapi jika demikian seharusnya Khong Hu Chu wafat dalam usia 73 tahun bukan 71 tahun. 

Di dalam brosur no. 33-34 berjudul “Apakah Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Agama Khong Hu Chu?”, Sala, 12 November 1969 diterbitkan oleh MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khong Hu Chu Indonesia) ditulis:  “Kelahiran Nabi Khongchu (551-479 SM). Nabi Khongchu lahir di negeri Louw, kota Coo Iep, desa Chiang Ping pada tanggal 27 bulan VIII Imlik 551 SM” (hal. 4) dan beliau wafat pada tanggal 18 bulan II Imlik 479 SM, dan dimakamkan didekat sungai Su Swie di kota kelahirannya” (hal. 6 dan 12). Disini ternyata tanggal wafatnya berbeda dengan tanggal yang ditulis oleh M.M. Sharif tersebut di atas.
Selanjutnya brosur tersebut menulis: “Sebutan Khonghuchu sebenarnya berarti Guru Suci Khong, sedang nama beliau yang sebenarnya ialah Khiu yang berarti Bukit alias Tiong Nie yang artinya Putra Kedua dari Bukit Nie. Beliau diberi nama demikian karena sebelum kelahirannya, Ibu Tien Cay (ibunya Khong Hu Chu) sering bersembahyang kepada Thian (Tuhan-pen) Yang Maha Esa di bukit Nie” (hal. 4-5). Propinsi Lu (mungkin hal ini identik dengan Low tadi-pen) terletak di distrik Tsow, tidak jauh dari Sungai Kuning (Hwang Ho) di Tiongkok (Joseph Gaer tersebut  hal. 74) yang oleh Sharif disebut sebagai Propinsi Sang Tung sekarang.
Disebut Putra Kedua tadi, nampaknya atau sangat mungkin karena Khong Hu Chu mempunyai 9 kakak-kakak perempuan tetapi hanya mempunyai seorang kakak laki-laki, dimana Khong Hu Chu sendiri lahir sebagai seorang Putra (anak lelaki) Nomor II (bungsu) dimana beliau sebagai anal laki-laki (putra) kedua diantara dua orang putra itu, (Brosur No. 33-34 tersebut hal. 4).
Kedua orangtua Khong Hu Chu pun disebut dengan nama berbeda-beda. Ayah beliau disebut Shuh Liang Heih (Joseph Gaer hal. 74), Syu Lang Heh (M.M. Sharif hal. 87), dan Khong Siok Liang Hut (Brosur tersebut hal. 4). Demikian pula ibunya disebut orang Ching Tsai (Joseph Gaer hal. 74), Yen Cing Tsai (M.M. Sharif hal. 87) dan juga disebut Gan Tien Cay (Brosur tersebut hal. 4).
J.J.L Duyvendak dalam E.N.S.I.E yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Filsafat Tiongkok Kuno – Hindia Muka dan Ethika” oleh Senat Mahasiswa Fakultas H.E.S.P, UGM, menulis: “Diantara “sarjana-sarjana” yang mengembara ini, yang pertama-tama disebut ialah Confucius, biografinya yang lengkap ditulis oleh seorang ahli sejarah Tionghoa She-ma Tsye’en (kira-kira 100 tahun SM).
Tetapi biografi tersebut ditulis ketika orang sedang memuja-muja Confucius jadi hanya dapat dianggap semacam legenda saja yang menceritakan tentang Confucius. Sebenarnya kalau ditinjau dari sudut historis, orang hanya mengetahui sedikit sekali tentang dia. Sumber yang paling baik untuk mengetahui riwayat hidupnya adalah sebuah buku LUN-YU (Pembicaraan-pembicaraan). Menurut Duvydendak, ”Tetapi buku ini yang agaknya ditulis sesudah 375 tahun SM juga tidak menceritakan banyak tentang riwayat hidup Confucius. Bahkan tanggal kelahiran dan meninggalnya pun (551-479 SM) tidak selalu dapat dipertahankan. Bahwa orang memakai tanggal-tanggal itu ialah karena tidak dapat menggantinya dengan yang lebih tepat. Orang mengira, bahwa Confucius telah menulis dan menerbitkan berbagai buku-buku tetapi hal ini tidak benar; kemungkinan lebih besar bahwa ia sama sekali tidak pernah menulis barang sesuatupun. Confucius adalah nama Latin dari K’ung Futze (Guru K’ung). Nama kecilnya Tsy’iu dan sesudah ia dewasa diberi nama Tsyung-ni. Menurut cerita ia adalah keturunan dari suatu keluarga bangsawan miskin yang berdiam di negara Lu, sebagian dari yang sekarang dinamakan Syantung” (hal. 6).
Dari analisa-analisa tersebut maka memang terdapat perbedaan-perbedaan mengenai hal ikhwal yang bersangkutan dengan Khong Hu Chu itu, antara lain:
1.    Nama beliau adalah Ch’iu, K’ung, Khiu, Kin, Tsyung-ni alias Tiong Nie, dan juga Khong Hu Chu, Khongcu, K’ung Fu-tze alias K’ung-tze, yang dalam lidah Barat menjadi Confucius.
2.    Negeri kelahirannya disebut Lu atau Low jug San Tung atau Syantung.
3.    Kedua orangtua beliau pun disebut dengan macam-macam nama dan ejaannya, sebagaimana sudah disebutkan di atas tadi.
Namun betapapun juga Khong Hu Cu adalah benar-benar seorang tokoh sejarah yang pernah hidup di pemukaan bumi Cina dan dikenal oleh dunia.
Huruf, sama, beda, bacaannya
Untuk menjelaskan tentang nama-nama yang berbeda-beda tersebut di atas tadi, maka terlebih dulu kita harus ingat bahwa Negeri Cina itu begitu luas dan besar daerahnya, yang penduduknya terdiri daripada berbagai suku bangsa yang menggunakan berbagai macam dialek bahasa dan ejaan-ejaannya. Maka perbedaan-perbedaan nama itu (walaupun yang dimaksud adalah seorang ituitu juga) sangat mungkin disebabkan situasi dan kondisi di dalam negeri itu sendiri, khususnya, mengenai perbedaan bacaan dalam bahasa itu masing-masing atas huruf-huruf Cina yang ada .Tegasnya hurufnya sama, tetapi beda membacanya, apalagi jika kita hubungkan dengan bahasa Jepang, yang walaupun hurufnya (yaitu aksara HON-JI atau KAN-JI-nya) adalah sama dengan aksara-aksara Cina, namun berbeda pembacaannya.
Sebagai contoh ditampilkan di sini tentang nama negeri Cina itu sendiri, yaitu TIONG-KOK. Ada yang membaca CHUNG- KOK, sedangkan orang-orang Jepang membaca CHU-KOKU. Padahal huruf-hurufnva sama bentuknya. Dan dibaca Chukoku oleh bangsa Jepang itupun, karena huruf-huruf yang bersangkutan itu (terdiri dari 2 huruf) sudah merupakan "senyawa" (majemuk). Jika kedua huruf itu dipisahkan, maka dalam bahasa Jepang menjadi seperti berikut: Kata atau huruf Tiong atau Chung alias Chu, dibaca "NAKA” artinya Tengah, sedangkan kata atau huruf satunya lagi Kok alias Koku itu dibaca "KUNI' artinya Negeri. Jadi nama Tiongkok alias Chungkok alias Chukoku itu arti harafiahnya ialah "NEGERI TENGAH”. Negeri Cina disebut demikian, karena bangsa Cina dalam sejarahnya menganggap negerinya sebagai "Negeri di tengah-tengah atau di pusat dunia".
Atas dasar analisa, tersebut diatas itu, maka menurut pendapat saya, bahwa nama Khong Hu Cu atau K’ung Fu-tze dan sebagainya itu tadi, begitu pula nama Lu atau Low tersebut diatas dan lain-lainnya perbedaannya hanya terletak pada pembacaannya, atas aksara-aksara yang bersangkutan, padahal bentuk-bentuk hurufnya itu sama saja.
Kitab Suci Khong Hu Cu
Kalau agama Islam dibawa oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rosulullah saw., maka Kitab Sucinya kaum Muslimin, yaitu Al-Qur’an adalah berisi wahyu-wahyu Allah swt. yang diwahyukan kepada beliau saw. Namun tidak demikian apa yang disebut Kitab Suci Agama, Khong Hu Cu itu.
Sebelum saya menguraikan tentang Kitab Suci yang dimaksud itu, maka terlebih dulu saya tampilkan tentang definisi dari apa yang disebut Agama Khong Hu Cu itu, adalah "agama yang mempunyai sejarah perkembangan, sehingga memperoleh bentuk terakhir pada zaman/oleh Nabi Khongcu dan murid-muridnya nnelampaui rasa ribuan tahun" (Brosur tersebut hal. 2), sedangkan apa yang disebut Kitab Suci agama Khong Hu Cu itu pun "tidak terbentuk dalam satu zaman, melainkan merupakan himpunan dari zaman kezaman" (Brosur tersebut hal. 2). Menurut brosur tersebut selanjutnya sebagaimana tercantum pada halaman 2 dan 6 Kitab Suci Khong Hu Cu dibagi dua kelompok:
Pertama: Kitab Suci NGO KING (Kitab Suci Yang Lima), merupakan himpunan Kitab-kitab Suci dari zaman sebelum Khong Hu Cu, tetapi menurut keyakinan para penganut agama ini, bahwa kitab ini kata mereka adalah dihimpun dan disusun oleh Khong Hu Cu sendiri. Kitab Ngo King terdiri dari:
1).    SIE KING (Kitab Sanjak), berisi kumpulan nyanyian-nyanyian rakyat maupun nyanyian-nyanyian pujian. Kumpulan dari abad 15 s/d l 7 SM.
2).    SU KING (Kitab Hikayat Suci atau Kitab dokumentasi Sejarah Suci). Isinya ialah himpunan dokumentasi amanat-amanat suci yang terdiri dari apa yang disebut Kitab Giauw Tian (amanat/perundangan baginda Giauw) dan apa yang disebut kitab Sun Tian (amanat/perundangan baginda Sun). Dari abad ke-23 SM. sampai pada raja muda Chien Bok Kong (abad ke-7 SM.).
3).    YA KING (Kitab Kejadian/Perubahan Alam Semesta dan Peristiwanya) : Tanda-tanda sucinya berupa Pat Kwa atau Delapan Diagram (rencana/gambaran) berasal dari raja suci Hok Hie dan tafsir utamanya yang menjadi isi Kitab ini dari raja suci Bun, Nabi Ciu Kong dan Nabi Khong Hu Cu sendiri, katanya. Adapun rnengenai apa yang disebut "delapan diagram" tadi tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut dalam brosur tersebut.
4).    LEE KING (Kitab Suci tentang kesusilaan atau etika) terdiri dari Kitab Gie Lee oleh Nabi Ciu Kong dan Kitab Lee Kie (Catatan Kesusilaan) yang katanya dihimpun oleh 2 orang pemuka agama Khonghucu dan keluarga Tay dari dinasti Han (2 abad SM s/d 2 abad M).
5).    CHUN CHIU KING (Kitab Hikayat zaman Chun Chiu) yang katanya ditulis oleh Khonghucu sendiri untuk menilai kejadian-kejadian baik dan buruk pada zaman Chun Chiu itu (tahun 722-480 SM).
Kedua: Kitab Suci Pokok yang katanya “langsung” bersumber dari ajaran-ajaran Khonghucu sendiri. Kitab ini sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, langsung dari bahasa/huruf-huruf Han oleh Tim Penyempurna Terjemahan pada tahun 1970 yang diterbitkan oleh MATAKIN tersebut. Kalimat-kalimat dalam masing-masing ayat sebagiannya kadang-kadang sulit ditangkap atau sukar dimengerti isi dan maksudnya. Ia terdiri dari empat himpunan kitab seperti berikut:
1.    THAI HAK (Jepang: Dai Gaku) artinya “Ajaran Besar”. Ini merupakan ajaran permulaan untuk masuk pintu gerbang kebajikan, kitab tuntunan pembinaan diri, dari kehidupan pribadi/perorangan, keluarga, masyarakat, negara sampai dengan dunia. Menurut penganut-penganut Conficianisme kitab ini dibukukan oleh Cingcu alias Cing Cam, salah seorang murid termaju dari antara 72 murid Khonghucu yang secara sempurna menerima pelajaran.
Kitab Thai Hak terdiri atas 1 bab utama dan 10 bab lainnya (64 ayat). Menarik perhatian ialah ayat yang tercantum dalam Thai Hak Bab X ayat 10, yaitu: “Maka kata-kata yang tidak senonoh itu akan kembali kepada yang mengucapkan, begitu pula harta yang diperoleh dengan tidak halal itu akan habis dengan tidak karuan” (hal. 26)
2.    TIONG YONG, artinya “Tengah Sempurna”. Merupakan kitab ajaran rohani (keimanan) dalam agama ini, menurut mereka dikodifisir oleh cucu NAbi Khonghucu, bernama Khong Khiep alias Cu Su yang menjadi murid Cing Cu, katanya langsung menerima bimbingan dari Khonghucu. Kitab ini terdiri dari 1 bab utama plus 32 bab-bab lainnya (128 ayat), yang tiap-tiap babnya tidak diberikan judul tertentu. Menarik perhatian ialah ayat-ayat yang berbunyi seperti berikut: 

a.    "Guru (Khonghucu-pen) bersabda: 'Sungguh Maha besarlah Kebajikan Kwi Sien (Tuhan dalam sifatnya sebagai Maha Roh). Dilihat tidak nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan ummat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-NYA. Sungguh Maha Besar Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Di dalam Kitab Sanjak (Si King) tertulis: Adapun kenyataan Tuhan Yang Roh itu tidak boleti diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguhlah jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia" (Tiong Yong Bab XV ayat 1 s/d 5);
b.    "Dengan berpuasa membersihkan hati mengenakan pakaian lengkap, tidak melakukan yang tidak susila, kita dapat membina diri…" dan seterusnya (Tiong Yong Bab XIX ayat 14).
c.    "Maka yang beroleh puncak Iman itu akan seperti malaikat" (Tiong Yong Bab XXIII ayat 1 bagian belakang);
d.    "Mahabesar jalan suci Nabi. Sangat luaslah Dia, berlaksa wujud dikembangkan dan dipelihara, kemuliaannya meninggi langit" along Yong Bab XXVI ayat 1&2)
Menurut ayat-ayat tersebut di atas itu, bahwa Tuhan itu adalah Maha Gaib, manusia disyariatkan berpuasa untuk membersihkan hati sanubari dan bersembahyang sujud ke hadirat Tuhan Yang Maha Besar dan Lathif dan untuk membina diri; keimanan yang luhur akan dapat mencapai sifat-sifat malaikat, sedangkan seorang Nabi memiliki Jahn Suci, terpelihara dan mulia di sisi Tuhan.
3.    LUN GI, artinya, "Sabda Suci". Terdiri dari dua bagian besar dan tiap-tiap jilid diberi judul-judul tertentu dalam bahasa/huruf Han tanpa terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
BAGIAN A: terdiri dari 10 jilid, 267 pasal, 408 ayat:
I   : Flak Ji 16 pasal, 24 ayat ;
II  : Wi Cing 24 pasal, 39 ayat;
III : Pat let 26 pasal, 38 ayat;
IV : Li Jien 26 pasal, 31 ayat;
V  : Kong Ya Tiang 28 pasal 40 ayat;
VI : Yong ya 30 pasal , 41 ayat;
VII : Sut Ji 38 pasal, 51 ayat;
VIII : Thai Pik 21 pasal, 35 ayat;
IX : Cu Han 31 pasal, 46 ayat;
X : Hiang Tong 27 pasal, 63 ayat;
Menarik perhatian ialah ayat-ayat berikut:
a.    “Penjaga tapal batas Negeri Gi ingin bertemu dengan Guru dan berkata: Setiap ada seorang Kuncu lewat di sini, aku tidak pernah tidak menemuinya. Oleh para murid ia disilakan menemuinya. Setelah keluar ia, ia berkata: Saudara-saudaraku, mengapa kalian nampaknya bermuram durja karena kehilangan kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci kini Thian (Tuhan -pen.) menjadikan Guru (Khonghucu-pen) selaku Bok Tok (Genta)” (Lun Gi jilid III pasal 24 ayat 1 s/d 3).
Apa yang disebut Bok Tok (Genta) itu ialah "Genta Rohani Tuhan". Di dalam brosur tersebut di atas tali yaitu pada halaman 5 dan 12 ada keterangan yang maksud ringkasnya, ialah, bahwa setelah melakukan sembahyang besar kepada Thian (Tuhan), pada hari Tang Cik (22 Desember 495 SM) Khonghucu meninggalkan negeri Low dan rnengembara bersama murid-muridnya dari satu negeri ke negeri lainnya, melakukan pekerjaan sebagai BOK TOK (Genta Rohani Tuhan) untuk menyiarkan ajaran agamanya kepada ummatnya di negeri Cina itu. Barulah dalam usia 6 tahun Khonghucu kemali ke kampung halamannya, yang rnenurut sahibul hikayat di antara kaum Khonghucu itu, beliau kernudian menyusun apa yang disebut Kitab Suci. Di dalam. pengembaraannya itu beliau diikuti oleh murid-muridnya yang setia antara lain: Yen Hwei, Tze Kung dan Tze Lu(hubungkan pula dengan Duyvendak hal. 8). Untuk selanjutnya penganut-penganut agarna ini memperingati tanggal 22 
Desember sebagai hari "Genta Rohani" alias "Tan Cik" itu tadi.
Akan tetapi menurut pendapat sava, bahwa "Genta" secara simbolis bisa diartikan sebagai alat untuk menyeru atau mengajak, atau bisa jadi sebagai suatu isyarat, agar rnanusia pada berkumpul atau bersatu, di mana Khonghucu mengembara dan merantau dari negeri ke negeri lain, dari kampung ke kampung, oleh Tuhan diutus untuk mengajak ummatnya dan untuk menyampaikan tugas-tugas missinya, menyeru mereka di Jalan Suci itu. Dalam analisa berikut ini nyata sekali bahwa Khonghucu adalah benar-benar seorang Nabi yang diutus oleh Tuhannya. Maka menurut pendapat saya, apa yang disebut sebagai Bok Tok itu tiada lain ialah identik dengan NABI.
b). "Ada seorang berpangkat Thai-cai bertanya kepada Cu K'ong: Seorang Nabikah Guru tuan, mengapa begitu banyak kecakapannya? Cu Fong menjawab: " MEMANG THIAN (Tuhan-pen.) TELAH MENGUTUSNYA. SEBAGAI NABI. Maka banyaklah kecakapannya" (Lun Gi jilid IX fasal 6 ayat I & 2). Dari ayat-ayat ini sudah jelas, bahwa Khonghucu, yang disebut "Guru" (lihat Gu Han pasal 1 & 2 ayat 1 dan 2) itu adalah seorang NABI, yang dalam ayat lainnya tadi disebut Bok Tok itu.
c) "Guru bersabda: Seorang Kuncu memuliakan 3 hal, memuliakan Firman Thian, memuliakan orang-orang besar dan memuliakan sabda para Nabi. Seorang rendah budi tidak mengenal dan tidak memuliakan Firman Thian, meremehka orang-orang besar dan mempermainkan sabda para Nabi" (Lun Gie jilid XVI pasal 8 ayat 1 & 2). Dari ayat ini jelas, bahwa manusia wajib taat kepada Tuhan, Rosul-Nya dan ulil amri, dan jika tidak demikian orang itu dinyatakan sebagai rendah budinya. Memang tiap-tiap individu penduduk harus patuh kepada Pemerintah, di mana mereka berada.
BAGIAN B : terdiri dari 10 jilid, 245 pasal, 463 ayat, namun nomor-nomor babnya adalah lanjutan dari nomor-nomor bab dari bagian A tersebut di atas:
Xl.    SianCien 26 pasal, 62 ayat;  
Xll.    Gan Yan 24 pasal, 56 ayat; 
XIII.   Cu Lo 30 pasal, 51 ayat;     
XIV.     Hian Bun 44 pasal, 80 ayat; 
XV.      Wee Ling Kong 42 pasal, 59   ayat;                                            
XVI.    Kwi Si 14 pasal, 33 ayat; 
XVII.    Yang Ho 26 pasal, 52 ayat; 
XVIII.   Bi Cu 11 pasal, 22 ayat; 
XIX.      Cu Tiang 25 pasal, 31 ayat; 
XX.      Giauw Wat 3 pasal, 17 ayat;
Kitab-kitab ini menurut mereka adalah merupakan kumpulan catatan murid-murid   Khonghucu tentang sabda-sabda beliau, percakapan beliau dengan para murid, kehidupan sehari-hari beliau, dimana seluruh ajaran-ajaran Khonghucu itu katanya tercakup dalam Kitab ini.
4.    BING CU (nama seseorang), merupakan kitab penjelasan yang lebih mendetail tentang ajaran Khonghucu yang katanya ditulis oleh Bing Cu sendiri dan murid-muridnya (brosur tersebut hal. 8). Tetapi di pihak lainnya dikatakannya, bahwa kitab tersebut ditulis oleh Bing Kho (bukan Bing Cu), yaitu pengajak ajaran agama Khonghucu yang hidup pada zaman Cian Kok (Perangnya Kerajaan-kerajaan) lahir antara tahun 371-289 SM orang negeri Low (brosur tersebut hal. 3). Apakah Bing Cu itu identik dengan Bhing Kok, tidak diperoleh penjelasan dari brosur itu.
Adapun Kitab Bing Cu itu terdiri dari 7 jilid (A & B), 258 pasal, 962 ayat seperti berikut:
I .    Liang Hwi Ong (A: 7 pasal, 58 ayat dan B :16 pasal, 70 ayat); 
II .    Kong Sun Thio (A: 9 pasal, 75 avat dan B : 14 pasal, 5 ayat);   
III.    Tin Bun Kong (A: 4 pasal, 53 ayat dan B : 10 pasal, 55 ayat) ; 
IV.    Li Lo (A: 28 pasal, 86 ayat dan B : 32 pasal, 82 ayat) ;              
V.    Ban Ciang (A: 9 pasal, 47 ayat dan B : 9 pasal, 54 ayat);          
VI.    Ko Cu (A: 20 pasal, 74 ayat dan B: 16 pasal, 82 ayat);
VII .    Cien Siem (A: 46 pasal, 127 ayat dan B: 38 pasal, 94 ayat).
Jika diteliti isi Kitab Su Sie itu, bukanlah ia berisi sabda-sabda Tuhan kepada    Khonghucu, melainkan semacam Hadits dalam Islam, dan ini pun ditulis tanpa sanad. Di kitab ini kita sering meniunpai kalimat-kalimat "Guru bersabda: …” (bandingkan dengan kalimat dalam hadits-hadits kita "Qala Rosulullahi saw. : …).
Kitab Ngo King yang terdiri dari 5 kitab itu mengingatkan kita kepada Kitab "'Torat Nabi Musa" yang juga terdiri dari 5 kitab, begitu pula Kitab Su Sie yang terdiri dari 4 kitab itu pun mengingatkan kita kepada Kitab "Injil Kristus" yang terdiri dari 4 kitab-juga. Dan kalau tadi sudah dikatakan, bahwa kitab suci agama Khonghucu itu merupakan himpunan kitab-kitab yang rerbentuk dari zaman ke zaman (brosur tersebut hal. 2), maka terbentuknya Bible itu adalah sepanjang masa antara 1500 tahun (Pengajaran Agama Masehi cetakan III halaman 9 oleh Pendeta A.K. de Groot, penerbitan Maleische Christelyke Lectuur Vereniging Batavia - 1935 dan Suara Nubuwatan Bandung pelajaran ke 1 no: 7) dan 1600 tahun (Dasar Kepercayaan Akan Dunia Baru hal. 17 terbitan Watchtower Bible and Tract Society, USA).
Akan tetapi, walaupun Kitab Ngo King itu berisi peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran sebelum lahirnya Khonghucu, namun biasanya kaum penganut agama Khonghucu menyebut Kitab itu dengan SU SIE NGO KING (bukan Ngo King Su Sie). Didahulukan sebutan Su Sie di depan Ngo King itu nampaknya Kitab Su Sie dianggap lebih penting daripada Kitab Ngo King, karena Su Sie itu merupakan Kitab Pokok Confucianisme dan katanya langsung bersumber dari Nabi Khonghucu sendiri sebagaimana sudah diterangkan di atas tadi.
(Sumber: Sinar Islam, Agustus 1981).

Kecemburuan Istri Rosulullah saw.

Cemburu merupakan tanda adanya cinta, mustahil orang yang mengakui mencintai kekasihnya (suaminya/istrinya) tidak memiliki rasa cemburu. Cemburu merupakan tanda kesempurnaan cinta, akan tetapi cemburu bisa tercela apabila terlalu berlebihan dan melampui batas. Aisyah r.a. adalah seorang wanita pencemburu hal ini terjadi karena begitu besar rasa cintanya kepada kekasihnya yaitu Rosulullah saw.
 
Dari Aisyah, bahwa Rosulullah saw. keluar dari rumahnya pada suatu malam. Aisyah menuturkan,
“Maka akupun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian beliau kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku. ”apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau. ”Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau ?”
 
“Rupanya setan telah datang kepadamu”, sabda beliau ”Apakah ada s etan besertaku?’ tanyaku.
“Tak seorangpun melainkan bersamanya ada setan” jawab beliau. ”Besertamu pula?” tanyaku.
“Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat”, jawab beliau. (ditakrij Muslim dan Nasa’i).
Dari Aisyah, dia berkata,
 
“Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rosulullah saw., yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Akupun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata,”Wahai Rosulullah, apa tebusan atas apa yang aku lakukan ini?” Beliau menjawab, “bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama” (ditakrij Abu Daud dan An-Nasa’i)
 
Sedangkan dalam riwayat lain dari Anas bin Malikk radhiyallahu anhu, dia menceritakan,
Nabi saw. pernah berada disisi salah seorang istrinya. Kemudian seorang dari ummul mukminin mengirimkan satu mangkuk makanan. Lalu istri Nabi yang berada dirumahnya memukul tangan Rosulullah sehingga mangkuk itu jatuh dan pecah. Maka Nabi pun mengambil dan mengumpulkan makanan di dalamnya. Beliau berkata: ”Ibumu cemburu, makanlah.” Maka merekapun segera memakannya. Sehingga beliau memberikan mangkuk yang masih utuh dari istri dimana beliau berada, dan meninggalkan mangkuk yang telah pecah tersebut di rumah istri yang memecahkannya. (HR.Bukhori, Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah)
 
Hadits senada diatas dengan beberapa tambahan, yaitu di dalam Ash-Shahih, dari hadits Humaid dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata,
 
”Ada diantara istri Nabi saw. yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau berada di rumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah. Nabi saw. langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali diatas mangkuk, seraya berkata, “makanlah. Ibu kalian sedang cemburu.” setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah itu kepada Aisyah”. (diriwayatkan oleh Bukhori, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
 
Begitupula kecemburuan Aisyah terhadap Shafiyah. Tatkala Rosulullah tiba di Madinah bersama Shafiyah yang telah dinikahinya, dan beliau berbulan madu bersamanya ditengah jalan, maka Aisyah berkata,
 
“Aku menyamar lalu keluar untuk melihat. Namun beliau mengenaliku. Beliau hendak menghampiriku, namun aku berbalik dan mempercepat langkah kaki. Namun beliau dapat menyusul lalu merengkuhku, seraya bertanya, ”Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Aku menjawab, “Dia adalah wanita Yahudi di tengah para wanita yang menjadi tawanan” (ditakrij Ibnu Majah).
 
Aisyah r.a. pernah berkata,
 
“Aku tidak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah, karena Nabi saw. seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau juga menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadamu”. Beliau bersabda, “Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadaku” (Diriwayatkan Bukhori).
 
Kecemburuan yang sangat mendalam hanya karena kekasihnya menyebut wanita lain padahal wanita yang disebutnya telah kembali kepada Zat Yang Mulia tetap membuatnya cemburu. Akan tetapi bisa engkau lihat betapa mulianya akhlaq Rosulullah saw. terhadap istrinya yang cemburu. Tidaklah beliau mengeluarkan perkataan yang kasar melainkan kata-kata yang haq. Semoga para suami bisa meneladani sikap dan akhlakq beliau saw.. Karena hanya beliaulah sebaik-baik sosok teladan yang patut untuk ditiru dan di contoh oleh semua ummatnya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab:21). 
 
(Sumber: jilbab.or.id)

Kain Kafan Yesus Kristus

Seorang ahli riset di Vatican menyatakan, suatu untaian kata-kata yang nyaris kasat mata pada Kain Kafan Turin membuktikan keaslian benda pusaka tersebut adalah Kain Kafan asli yang dipakai oleh Yesus Kristus.
 
Pernyataan yang dibuat di dalam sebuah buku karangan - yang juga ahli sejarah yang bernama - Barbara Frale ini segera mengundang sikap skeptis dari beberapa saintis lain yang tetap berpendapat bahwa kain kafan tersebut buatan tangan manusia di Abad Pertengahan.
 
Namun, Frale, periset di Kantor Arsip Vatican menegaskan bahwa ia menggunakan bantuan perangkat komputer untuk memperbesar tampilan citra yang sebelumnya tampak samar-samar itu, memperlihatkan untaian tulisan tangan dalam Bahasa Yunani, Bahasa Latin dan Bahasa Aramaik, yang melintang di sepanjang Kain Kafan tersebut.
 
Setelah wanita ahli riset ini memilah-milahnya, untaian kata-kata tersebut menuliskan "Yesus Orang Nazareth" dalam Bahasa Yunani, yang membuktikan bahwa tulisan kata-kata tersebut sama sekali bukan berasal dari Abad Pertengahan; karena tak akan ada orang Kristen pada waktu itu – bahkan seorang pemalsu pun - yang akan mencantumkan nama “Yesus Orang Nazareth”, tanpa menyebutkan predikat kerosulannya.
 
Kain Kafan tersebut juga menampilkan citra tubuh seorang manusia yang telah mengalami penyaliban, lengkap dengan bercak tetesan darah dari telapak tangan dan kakinya yang terluka karena dipaku. Orang-orang yang beriman mengatakan citra wajah dan tubuh Yesus Kristus tercetak pada serat-serat linen kain kafan tersebut ketika beliau bangkit kembali.
 
Benda pusaka yang mudah rapuh dan dikuasai oleh pihak Vatican tersebut disimpan di suatu ruangan terkunci dan diamankan secara khusus di dalam salah satu Katedral di Turin; dan hanya sekali-sekali dipertontonkan kepada publik.

Mereka yang skeptis berpendapat, merujuk kepada tes penanggalan dengan 'radiocarbon' yang dilakukan pada tahun 1988, Kain Kafan tersebut buatan manusia di Abad-13 atau 14-Masehi.
Namun, berdasarkan untaian kata-kata samar yang tercetak di sekitar citra wajah Yesus yang menampak pada Kain Kafan tersebut yang sudah terlihat sejak beberapa puluh tahun yang lalu itu, para ahli riset yang lebih serius menolak pendapat mereka yang skeptis, berdasarkan berbagai hasil pengujian ini, ujar Frale kepada The Associated Press.
 
Yakni, ketika wanita ahli riset ini memilah citra untaian kata-kata tersebut dari gambar foto Kain Kafan itu, kemudian memperlihatkannya kepada para ahli lain, mereka menyimpulkan, menilik gaya tulisannya, hal itu merujuk kepada tipologi tulisan Timur Tengah pada Abad Pertama Masehi – yakni masa awal kehidupan Yesus.
 
Wanita periset ini meyakini, teks tersebut semula dituliskan pada sebuah dokumen oleh seorang juru tulis kemudian direkatkannya pada Kain Kafan di bagian wajahnya, supaya nantinya raga si pemilik kain kafan tersebut dapat dikenali oleh sanak saudaranya untuk kemudian dikubur secara patut. Bahan metal di dalam campuran tinta yang biasa dipakai di zaman itu memungkinkan tulisan yang ada pada dokumen tersebut akhirnya menempel pada kain linen kafan itu, jelas Frale.
 
Frale menyatakan, teks pada kain kafan tersebut juga mendukung sebagian cerita Injil mengenai saat-saat akhir Yesus Kristus. Sedangkan bagian tulisan di dalam Bahasa Yunani tersebut terbaca: "diangkat pada jam ke-sembilan; yang sangat boleh jadi merujuk kepada saat-saat 'kematian' Kristus sebagaimana yang dilaporkan oleh beberapa teks suci, tambahnya.
 
Dengan metoda penguat citra yang dilakukan Frale, sedikitnya ada 7 (tujuh) untaian kata-kata yang dapat dilihat. Berpencaran melintang, membujur, tersebar di sana-sini menapak di sekitar citra wajah Yesus yang menempel di Kain Kafan tersebut. Satu untaian kata dalam Bahasa Aramaic belum diterjemahkan. Namun yang dalam Bahasa Latin, tulisan — "iber" — sangat boleh jadi merujuk kepada Kaisar Tiberius, yang tengah memerintah ketika Nabi Isa a.s. disalibkan, jelas Frale.
 
"Saya mencoba bersikap objektif dengan mengenyampingkan pendapat agama”, ujar Frale kepada AP. "Yang saya teliti adalah sebuah dokumen pusaka yang menguatkan bukti telah terjadinya peristiwa penyaliban atas diri seorang anak manusia pada suatu lokasi dan waktu tertentu."

(Sumber: abunaweed.blogspot.com)

Wanita Karir Ditinjau dari Segi Islam

Istilah wanita karir telah acap kali terdengar, khususnya di zaman sekarang ini. Fakta membuktikan bahwa kaum wanita kini semakin mampu sejajar dengan kaum pria. Karena itu sudah sepantasnyalah mensyukuri keadaan wanita yang selangkah lebih maju. Khususnya di Indonesia bahwa alam pembangunan dewasa ini telah mencapai taraf kemajuan dalam segala bidang. Maka potensi sumber daya manusia menjadi faktor terpenting dalam pembangunan ini. Dalam bidang kultur tampak sudah lazim bagi wanita untuk bekerja di luar rumah, atau dikenal dengan apa yang disebut wanita karir.

Sebuah Hadits menyatakan:“ Kaum pria itu pemimpin (atas) kaum wanita”. Maksud dari Hadits tersebut bahwa di rumah kedudukan pria (bapak) itu menjadi kepala keluarga yang wajib melindungi istri dan anak-anaknya, dalam arti bila sudah di luar rumah baik wanita maupun pria sama-sama mempunyai hak untuk bekerja atau berkiprah di masyarakat. Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bersosialisasi dengan masyarakat, selama tidak mengabaikan tugas dan kewajibannya di rumah, karena wanita yang telah berkeluarga memiliki tanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup anak-anaknya demi membawa kemaslahatan bagi agama dan negara. Hal tersebut di atas membuktikan bahwa kaum wanita tidak kalah dengan kaum pria, bahkan tugas wanita lebih mulia karena mempunyai fungsi ganda. Kalaupun dalam hal lain pria diberi kelebihan, tentu ada imbangannya. Terdapat faktor lainnya dimana wanita justru mempunyai kelebihan daripada pria.

Pertama, kedudukan seorang ibu yang jauh lebih mulia daripada seorang ayah di mata anak. Seorang sahabat datang kepada Rosulullah saw. dan bertanya : “Ya Rosulullah, bimbing saya, kepada siapa saya berbuat baik agar saya dapat menikmati perbuatan baik ini?” Rosul menjawab, “ Berbuat baiklah kepada ibumu,” dan begitulah seterusnya pertanyaan itu dijawab yang sama terulang tiga kali, barulah pertanyaan keempat dijawab dengan bapakmu. Hadits lain mengatakan bahwa “Surga ada dibawah telapak kaki ibu.” Maka kehormatan mana yang lebih indah bagi seorang wanita  selain kata-kata ini. Kedua, bahwa wanita lebih banyak mendapat kemudahan untuk   masuk surga. Ketiga, derajat kemakbulan seorang ibu lebih tinggi dibanding ayah. Keempat, bahwa larangan seorang ibu terbanding dengan perintah wajib dari Allah swt.

Hal di atas menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi martabat wanita. Berbeda dengan tuduhan yang dilemparkan oleh beberapa orientalis yang menaruh kebencian terhadap Islam, dengan mengatakan bahwa Islam merendahkan martabat wanita dan hanya dijadikan pemuas nafsu pria, serta tidak mempunyai kebebasan bersosialisasi sama sekali. Hal ini memang mengakibatkan kesalahpahaman, terutama di mata orang awam yang tidak memahami ajaran Islam secara global dan menyeluruh. Mereka mengira bahwa ajaran Islam melarang wanita ke luar rumah, sehingga kehidupannya menjadi sangat sempit dan tertutup. Tentu hal ini sepintas menimbulkan kesan yang negatif. Lantas bagaimana permasalahan yang sebenarnya?

Islam tidak menghendaki selain kebaikan. Semua syariatnya benar-benar sesuai dengan kondisi fisik, mental dan naluri setiap orang. Islam menghargai setiap usaha atau kerja, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, apakah itu dilakukan oleh pria maupun wanita, yang pertanggungjawabannya langsung diserahkan kepada Allah swt. kemudian Islam mengajarkan tugas antara wanita dan pria berdasarkan corak kefitrahannya masing-masing, bukan kecerdasan kualitas kerja yang mengacu pada pembagian kekuasaan antara keduanya, sehingga menjadikan yang satu lebih utama dari yang lain. Jelasnya semua tugas itu adalah mulia, bila didasarkan pada niat mencari ridho’ Ilahi dan semata-mata sebagai realisasi dari peribadatan kepada-Nya. Karena dalam hal ibadah dan ketaqwaan, wanita dan pria dinilai atas standar yang sama.

Bagi wanita tentu saja dalam berkarir, tetap harus mengindahkan etika dan aturan pergaulan dan tidak melanggar norma-norma ajaran Islam. Hal ini terutama ditekankan dalam Islam bahwa batasan pergaulan wanita dan pria harus dijaga. Jangan sampai seorang wanita yang giat berkarir di luar rumah, berpenampilan berlebihan dengan memperlihatkan kecantikan atau perhiasannya, bertingkah laku kasar dan kurang lembut, sehingga terlihat sebagai seorang wanita yang sombong dan kurang sopan. Sebaliknya dengan tetap memakai busana muslimah serta tidak bertujuan mencari perhatian, wanita karir yang muslim akan terlihat anggun.

Khusunya pada era masa kini, dominasi budaya Barat cukup terasa meresap dan memberi warna dalam setiap aspek kehidupan manusia di dunia Timur. Materialisme dan hedonisme telah memunculkan persepsi yang salah tentang kualitas pekerjaan, tugas dan kewajiban. Semua diukur dengan materi, yang pada gilirannya akan ikut menentukan status sosial dan kedudukan seseorang di mata masyarakat.

Dalam keadaan yang demikian, akhirnya wanita terpancing dan terpengaruh oleh sistem hidup serba materialis ini. Wanita menjadi merasa lebih rendah dari kaum pria, sehingga muncullah gerakan emansipasi wanita yang melampaui batas kodrati wanita. Disinilah seorang muslimah dituntut untuk berpikir dan merenungkan kembali, bagaimana jati diri seorang wanita yang sebenarnya.

Sebagai seorang muslim, Islamlah yang merupakan jalan selamat untuk menghadapi gejolak globalisasi era sekarang ini. Konsepsi Islam tentang wanita telah begitu jelas, bahwa wanita muslim diharapkan mampu menempatkan dirinya pada proporsi yang sebenarnya.

Akhirnya kerangka iman dan Tauhidlah yang harus tertanam pada diri setiap muslimin dan muslimah. Segala yang bersandar pada sifat materialistis harus dihapus. Sebab bagaimanapun iman adalah tolok ukur dan pijakan dasar apa saja yang dilakukan setiap manusia, yang tanpa ini semua pekerjaan manusia akan sia-sia dan bahkan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
 
Kerangka Tauhid yang dimaksud tidak akan mempersempit ruang gerak muslimah dalam menentukan profesi pilihannya. Islam tidak melarang kaum wanita bekerja  di luar rumah pada saat ada yang membutuhkan pelayanan, baik untuk kepentingan masyarakat maupun dirinya sendiri.


(Oleh: Sumayya I. Munawar ; Suara Lajnah, Pebruari 1996)